Konsultan IFRS 1 dan IFRS 2 di Indonesia

Konsultan IFRS 1 dan IFRS 2 di Indonesia

Konsultan IFRS 1 dan IFRS 2 di Indonesia

Selama ini, laporan keuangan menjadi sumber utama bagi investor untuk menilai kinerja sebuah perusahaan. Namun, dinamika bisnis global menunjukkan bahwa informasi keuangan saja tidak lagi cukup untuk menggambarkan prospek sebuah organisasi. Risiko perubahan iklim, gangguan rantai pasok, transisi menuju ekonomi rendah karbon, hingga kebijakan keberlanjutan kini menjadi faktor yang dapat memengaruhi nilai perusahaan dan keputusan investasi.

Perubahan tersebut mendorong berkembangnya standar pelaporan keberlanjutan yang lebih terstruktur. Melalui International Sustainability Standards Board (ISSB), IFRS Foundation menerbitkan IFRS S1 dan IFRS S2 sebagai acuan global dalam menyampaikan informasi keberlanjutan yang relevan bagi investor dan penyedia modal. Kedua standar ini membantu perusahaan menjelaskan bagaimana isu keberlanjutan memengaruhi strategi, model bisnis, manajemen risiko, serta prospek keuangan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

Di Indonesia, perhatian terhadap IFRS S1 dan IFRS S2 terus meningkat. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah mengadopsi kedua standar tersebut menjadi Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK) 1 dan SPK 2 yang berlaku efektif mulai 1 Januari 2027. Bagi banyak perusahaan, periode sebelum implementasi menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kesiapan organisasi, memperbaiki kualitas data keberlanjutan, dan membangun sistem pelaporan yang lebih terintegrasi.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap konsultan IFRS S1 dan IFRS S2 di Indonesia semakin relevan. Implementasi standar ISSB tidak berhenti pada penyusunan laporan, tetapi mencakup penyesuaian proses bisnis, tata kelola, pengelolaan data ESG, hingga koordinasi antar fungsi agar informasi yang diungkapkan benar-benar mencerminkan kondisi perusahaan.

Mengapa IFRS S1 dan IFRS S2 Mulai Menjadi Perhatian Perusahaan?

Banyak organisasi di Indonesia sebenarnya telah menjalankan berbagai program keberlanjutan. Inventarisasi emisi gas rumah kaca, efisiensi energi, pengelolaan limbah, konservasi air, maupun penyusunan Sustainability Report bukan lagi hal baru, terutama bagi perusahaan yang mengikuti PROPER, memiliki target ESG, atau menjadi bagian dari rantai pasok global.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Investor, lembaga pembiayaan, dan pelanggan internasional tidak hanya ingin mengetahui program keberlanjutan yang dijalankan perusahaan, tetapi juga bagaimana isu tersebut dapat memengaruhi kinerja bisnis dan kondisi keuangan di masa depan.

Sebagai contoh, peningkatan emisi karbon tidak lagi dipandang hanya sebagai indikator lingkungan. Investor akan melihat apakah kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional akibat kebijakan harga karbon, memengaruhi akses pembiayaan berkelanjutan, atau menimbulkan risiko terhadap daya saing perusahaan di pasar internasional. Hal yang sama berlaku untuk risiko fisik akibat perubahan iklim, seperti banjir, kekeringan, atau cuaca ekstrem yang dapat mengganggu operasional maupun rantai pasok.

Kebutuhan akan informasi seperti inilah yang menjadi dasar penyusunan IFRS S1 dan IFRS S2. Standar ini memberikan kerangka yang lebih jelas mengenai informasi apa saja yang perlu diungkapkan agar investor dapat memahami hubungan antara risiko keberlanjutan, strategi perusahaan, dan prospek bisnis di masa depan.

IFRS S1 dan IFRS S2 Bukan Pengganti Sustainability Report

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah perusahaan tetap perlu menyusun Sustainability Report jika telah menerapkan IFRS S1 dan IFRS S2.

Jawabannya bergantung pada tujuan pelaporan dan kebutuhan pemangku kepentingan. Sustainability Report umumnya digunakan untuk mengomunikasikan kinerja ESG kepada berbagai kelompok stakeholder, termasuk masyarakat, pelanggan, regulator, karyawan, maupun investor. Ruang lingkupnya cukup luas dan dapat mengacu pada berbagai framework seperti GRI Standards.

Sementara itu, IFRS S1 dan IFRS S2 dikembangkan dengan fokus yang lebih spesifik, yaitu menyediakan informasi keberlanjutan yang material bagi investor dan penyedia modal. Oleh karena itu, perusahaan perlu menjelaskan bagaimana isu lingkungan, sosial, maupun tata kelola dapat memengaruhi arus kas, akses pendanaan, strategi bisnis, dan kemampuan perusahaan menciptakan nilai dalam jangka panjang.

Dalam praktiknya, kedua pendekatan tersebut saling melengkapi. Sustainability Report tetap berperan sebagai media komunikasi keberlanjutan kepada berbagai pemangku kepentingan, sedangkan IFRS S1 dan IFRS S2 memperkuat kualitas pengungkapan melalui perspektif yang lebih dekat dengan kebutuhan pasar modal dan investor.

Mengapa Banyak Perusahaan Belum Siap?

Pengalaman di berbagai proyek ESG menunjukkan bahwa tantangan implementasi jarang disebabkan oleh tidak adanya data. Sebagian besar perusahaan telah memiliki informasi mengenai konsumsi energi, emisi gas rumah kaca, penggunaan air, limbah, maupun berbagai indikator operasional lainnya.

Permasalahan umumnya muncul ketika data tersebut perlu dikonsolidasikan menjadi satu informasi yang konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan. Data sering kali tersimpan di berbagai divisi dengan metode pencatatan yang berbeda, belum memiliki mekanisme verifikasi yang memadai, atau belum dikaitkan dengan proses manajemen risiko dan perencanaan bisnis.

Kondisi tersebut membuat perusahaan memerlukan waktu lebih panjang untuk menyiapkan sustainability disclosure sesuai dengan persyaratan IFRS S1 dan IFRS S2. Oleh karena itu, banyak organisasi memulai proses implementasi melalui gap assessment untuk mengidentifikasi kesenjangan antara sistem yang telah dimiliki dengan persyaratan standar ISSB.

Gap assessment juga membantu perusahaan menentukan prioritas implementasi sehingga investasi waktu dan sumber daya dapat difokuskan pada area yang memberikan dampak paling besar terhadap kesiapan pelaporan.

Apa yang Perlu Diungkapkan dalam IFRS S1?

IFRS S1 memberikan pedoman mengenai informasi keberlanjutan yang perlu diungkapkan apabila informasi tersebut berpotensi memengaruhi keputusan investor dan penyedia modal. Dengan kata lain, fokusnya bukan pada banyaknya program ESG yang dimiliki perusahaan, melainkan pada informasi yang benar-benar memiliki dampak terhadap kinerja dan prospek bisnis.

Dalam implementasinya, perusahaan perlu menjelaskan bagaimana isu keberlanjutan diidentifikasi, bagaimana risiko dan peluang tersebut memengaruhi model bisnis, serta bagaimana manajemen mengelolanya. Pengungkapan juga perlu didukung dengan target, indikator kinerja, dan proses pemantauan yang digunakan perusahaan.

Sebagai contoh, perusahaan manufaktur yang memiliki konsumsi energi tinggi perlu menjelaskan bagaimana kenaikan harga energi, kebijakan dekarbonisasi, atau perubahan regulasi dapat memengaruhi biaya operasional dan strategi bisnis. Begitu pula perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor perlu mempertimbangkan risiko gangguan rantai pasok akibat perubahan iklim atau kebijakan lingkungan di negara asal pemasok.

Melalui pendekatan tersebut, investor memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko keberlanjutan sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul dari transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.

IFRS S2: Fokus pada Risiko dan Peluang Perubahan Iklim

Apabila IFRS S1 membahas seluruh isu keberlanjutan yang material, maka IFRS S2 secara khusus mengatur pengungkapan yang berkaitan dengan perubahan iklim (climate-related disclosures).

Standar ini dikembangkan dengan mengadopsi rekomendasi Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD), sehingga struktur pengungkapannya tetap mengacu pada empat pilar utama, yaitu governance, strategy, risk management, serta metrics and targets.

Bagi perusahaan, penerapan IFRS S2 bukan sekadar melaporkan besarnya emisi gas rumah kaca. Pengungkapan yang diharapkan jauh lebih luas, termasuk bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi strategi bisnis, investasi, operasional, hingga ketahanan perusahaan dalam jangka panjang.

Sebagai ilustrasi, perusahaan yang beroperasi di wilayah dengan risiko banjir tinggi perlu mengevaluasi potensi gangguan terhadap fasilitas produksi maupun distribusi. Di sisi lain, perusahaan yang bergantung pada bahan bakar fosil juga perlu mempertimbangkan risiko transisi, seperti perubahan kebijakan harga karbon, peningkatan biaya energi, atau pergeseran permintaan pasar menuju produk rendah emisi.

Karena itu, implementasi IFRS S2 membutuhkan keterlibatan berbagai fungsi dalam organisasi. Informasi yang diperlukan tidak hanya berasal dari tim ESG, tetapi juga dari unit operasional, keuangan, manajemen risiko, hingga perencanaan strategis.

Apakah IFRS S1 dan IFRS S2 Menggantikan GRI atau TCFD?

Pertanyaan ini sering muncul ketika perusahaan mulai mempersiapkan implementasi standar ISSB. Jawabannya adalah tidak.

GRI Standards, CDP, SASB, maupun TCFD dikembangkan dengan tujuan dan pengguna informasi yang berbeda. Banyak perusahaan telah menggunakan framework tersebut selama bertahun-tahun untuk memenuhi kebutuhan pelaporan kepada regulator, pelanggan, investor, atau pemangku kepentingan lainnya.

IFRS S1 dan IFRS S2 tidak mengharuskan perusahaan meninggalkan framework yang telah digunakan. Sebaliknya, kedua standar tersebut dapat menjadi acuan untuk menyelaraskan berbagai informasi keberlanjutan yang telah dimiliki agar lebih relevan bagi investor.

Sebagai contoh, perusahaan yang telah menyusun Sustainability Report berdasarkan GRI umumnya sudah memiliki data mengenai emisi, energi, air, limbah, maupun aspek sosial. Informasi tersebut dapat menjadi fondasi dalam penyusunan sustainability-related financial disclosures, meskipun masih diperlukan penyesuaian agar sesuai dengan persyaratan IFRS S1 dan IFRS S2.

Demikian pula perusahaan yang telah menerapkan rekomendasi TCFD akan memiliki keuntungan karena struktur pengungkapan IFRS S2 dibangun di atas fondasi yang serupa. Hal ini dapat mengurangi upaya yang diperlukan dalam proses implementasi.

Langkah Awal Sebelum Mengimplementasikan IFRS S1 dan IFRS S2

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah langsung menyusun laporan tanpa memahami tingkat kesiapan organisasi. Pendekatan seperti ini berisiko menghasilkan disclosure yang tidak konsisten atau sulit dipertahankan pada periode pelaporan berikutnya.

Dalam praktiknya, implementasi umumnya diawali dengan gap assessment. Tahap ini bertujuan untuk membandingkan kondisi perusahaan saat ini dengan persyaratan IFRS S1 dan IFRS S2, sehingga area yang perlu diperbaiki dapat diidentifikasi sejak awal.

Hasil gap assessment biasanya menjadi dasar dalam menyusun roadmap implementasi. Perusahaan dapat menentukan prioritas pengembangan, mulai dari penguatan tata kelola, penyempurnaan proses pengumpulan data, peningkatan kualitas pengendalian internal, hingga penyusunan mekanisme pelaporan yang lebih terintegrasi.

Pendekatan bertahap seperti ini juga membantu perusahaan mengoptimalkan sistem yang telah dimiliki. Banyak organisasi sebenarnya telah memiliki data dan kebijakan yang relevan, sehingga implementasi lebih difokuskan pada penyempurnaan proses daripada membangun sistem baru dari awal.

Bagaimana Actia Mendukung Implementasi IFRS S1 dan IFRS S2?

Setiap perusahaan memiliki tingkat kesiapan yang berbeda dalam mengadopsi IFRS S1 dan IFRS S2. Ada organisasi yang telah memiliki Sustainability Report, inventarisasi emisi gas rumah kaca, serta target ESG yang jelas. Di sisi lain, ada pula perusahaan yang baru mulai membangun sistem pengelolaan data keberlanjutan. Karena itu, implementasi tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk semua organisasi.

Actia mendampingi perusahaan mulai dari tahap penilaian kesiapan hingga penyusunan sustainability disclosure yang selaras dengan standar ISSB. Pendampingan dilakukan secara bertahap agar perusahaan dapat memanfaatkan data, sistem, dan proses yang telah dimiliki, sekaligus mengidentifikasi area yang masih perlu diperkuat.

Layanan yang kami berikan meliputi gap assessment, penyusunan roadmap implementasi, pengembangan tata kelola keberlanjutan, identifikasi data yang dibutuhkan, penyusunan climate-related disclosure, hingga review kualitas pengungkapan sebelum dipublikasikan. Pendekatan ini membantu perusahaan membangun sistem pelaporan yang lebih konsisten dan siap digunakan pada periode pelaporan berikutnya.

Dengan pengalaman dalam proyek inventarisasi emisi gas rumah kaca (GHG Inventory), Sustainability Report, strategi dekarbonisasi, ESG, serta carbon footprint, Actia membantu perusahaan menghubungkan berbagai inisiatif keberlanjutan ke dalam kerangka pelaporan yang sesuai dengan IFRS S1 dan IFRS S2.

Pertanyaan yang Sering Diajukan oleh Klien

  • Apakah IFRS S1 dan IFRS S2 sudah berlaku di Indonesia?
    Ya. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah mengadopsi IFRS S1 dan IFRS S2 menjadi Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK) 1 dan SPK 2 yang efektif berlaku mulai 1 Januari 2027. Meskipun demikian, banyak perusahaan telah mulai mempersiapkan implementasi melalui gap assessment dan penyempurnaan sistem pelaporan.
  • Apakah perusahaan yang sudah memiliki Sustainability Report masih perlu menerapkan IFRS S1 dan IFRS S2?
    Perlu dilakukan evaluasi terlebih dahulu. Sustainability Report dapat menjadi fondasi yang baik, tetapi belum tentu telah memenuhi seluruh kebutuhan pengungkapan berdasarkan standar ISSB. Banyak perusahaan telah memiliki data ESG yang memadai, namun masih memerlukan penyesuaian agar informasi tersebut relevan bagi investor dan terhubung dengan aspek keuangan.
  • Berapa lama implementasi IFRS S1 dan IFRS S2?
    Durasi implementasi berbeda pada setiap perusahaan. Faktor yang memengaruhi antara lain kompleksitas organisasi, jumlah lokasi operasional, kualitas data ESG, serta tingkat kematangan tata kelola keberlanjutan. Oleh karena itu, implementasi umumnya diawali dengan gap assessment untuk menentukan ruang lingkup pekerjaan dan prioritas pengembangan.
  • Mengapa perusahaan perlu menggunakan konsultan IFRS S1 dan IFRS S2?
    Standar IFRS S1 dan IFRS S2 melibatkan berbagai aspek, mulai dari tata kelola, manajemen risiko, perubahan iklim, hingga sustainability-related financial disclosures. Pendampingan konsultan membantu perusahaan memahami persyaratan standar, menyusun roadmap implementasi, serta memastikan proses pelaporan berjalan lebih efektif dan sesuai dengan praktik yang berlaku.

Siapkan Implementasi IFRS S1 dan IFRS S2 Sejak Sekarang!

Penerapan IFRS S1 dan IFRS S2 bukan sekadar memenuhi kebutuhan pelaporan. Standar ini membantu perusahaan menyusun informasi keberlanjutan yang lebih terstruktur, konsisten, dan relevan bagi investor maupun penyedia modal. Persiapan yang dilakukan lebih awal juga memberikan waktu bagi perusahaan untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas data ESG, serta menyelaraskan proses pelaporan dengan kebutuhan bisnis.

Jika perusahaan Anda sedang mengevaluasi kesiapan penerapan SPK 1, SPK 2, atau membutuhkan pendampingan implementasi IFRS S1 dan IFRS S2, tim Actia siap membantu mulai dari tahap awal hingga penyusunan sustainability disclosure yang sesuai dengan standar ISSB.

Diskusikan kebutuhan perusahaan Anda bersama tim Actia. Kami siap membantu menyusun strategi implementasi yang sesuai dengan karakteristik industri, tingkat kesiapan organisasi, dan tujuan bisnis perusahaan.

Harga Jasa Hitung Jejak Karbon Produk dan Manfaat Investasinya

Harga Jasa Hitung Jejak Karbon Produk dan Manfaat Investasinya

Harga jasa hitung jejak karbon produk di Indonesia bervariasi tergantung pada kompleksitas rantai pasok, ruang lingkup emisi (Scope 1, 2, dan 3), serta kedalaman metodologi Life Cycle Assessment (LCA) yang digunakan. Secara umum, investasi untuk layanan ini berkisar dari puluhan hingga ratusan juta rupiah. Investasi ini memberikan nilai strategis berupa kepatuhan terhadap regulasi ekonomi karbon, peningkatan skor ESG, efisiensi operasional melalui reduksi emisi, serta akses ke pasar global yang kini mensyaratkan transparansi jejak karbon pada setiap label produk.

Mengenal Pentingnya Perhitungan Jejak Karbon di Sektor Industri

Di tengah meningkatnya isu perubahan iklim global, perusahaan dituntut untuk tidak hanya mengejar profit, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan. Melakukan perhitungan jejak karbon perusahaan bukan lagi sekadar tren sukarela, melainkan kebutuhan strategis. Dengan mengetahui besaran emisi yang dihasilkan, perusahaan dapat mengidentifikasi titik panas (hotspots) emisi dalam proses produksi mereka. Hal ini menjadi fondasi awal sebelum melangkah ke tahap dekarbonisasi yang lebih jauh.

Layanan profesional seperti jasa hitung jejak karbon produk membantu bisnis untuk mengukur total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan selama siklus hidup produk, mulai dari ekstraksi bahan baku hingga pembuangan akhir. Proses ini sangat krusial bagi perusahaan yang ingin memperkuat citra merek mereka sebagai entitas yang ramah lingkungan dan transparan di mata konsumen maupun investor.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Jasa Hitung Jejak Karbon Produk

Banyak calon klien bertanya mengapa harga layanan ini bisa sangat bervariasi. Faktor utama adalah kedalaman data yang diperlukan untuk melakukan Kajian LCA (Life Cycle Assessment). Kajian ini melibatkan pengumpulan data aktivitas dari seluruh rantai pasok, yang seringkali melibatkan banyak vendor dan sub-vendor. Semakin luas jangkauan distribusi dan semakin kompleks komponen produk, semakin tinggi pula sumber daya yang dibutuhkan oleh konsultan untuk melakukan verifikasi data.

Selain itu, inventarisasi GRK (Gas Rumah Kaca) yang akurat memerlukan perangkat lunak khusus dan tenaga ahli bersertifikasi. Biaya juga dipengaruhi oleh tujuan akhir dari perhitungan tersebut. Jika hasilnya akan digunakan untuk Penyusunan Sustainability Report (Laporan Keberlanjutan) yang diaudit secara internasional, maka standar yang digunakan harus sangat ketat, yang tentu berimplikasi pada biaya jasa tersebut.

Metodologi LCA sebagai Standar Emas

Dalam menghitung jejak karbon, metodologi LCA adalah standar emas yang diakui secara global. Metodologi ini memastikan bahwa tidak ada emisi yang terlewatkan dalam setiap fase hidup produk. Perusahaan yang menggunakan layanan ini akan mendapatkan data komprehensif yang bisa digunakan untuk inovasi desain produk yang lebih rendah emisi. Untuk informasi lebih lanjut mengenai standar lingkungan di Indonesia, Anda dapat merujuk pada jasa konsultan lingkungan terpercaya.

Integrasi dengan Standar Internasional SBTi

Bagi perusahaan yang memiliki ambisi net-zero, layanan pendampingan SBTi (Science Based Targets initiative) seringkali menjadi paket tambahan dalam perhitungan jejak karbon. SBTi membantu perusahaan menetapkan target pengurangan emisi yang selaras dengan sains iklim demi menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 derajat Celcius. Hal ini memerlukan sinkronisasi data yang sangat detail antara hasil hitung jejak karbon dengan strategi jangka panjang perusahaan.

Manfaat Investasi pada Jasa Hitung Jejak Karbon Produk

Investasi pada jasa hitung jejak karbon produk memberikan keuntungan finansial dan non-finansial jangka panjang. Pertama, efisiensi energi. Dengan mengetahui bagian produksi mana yang paling banyak membuang emisi, perusahaan bisa melakukan penghematan biaya energi yang signifikan. Kedua, daya saing pasar. Produk dengan label jejak karbon yang rendah memiliki daya tarik lebih bagi konsumen modern yang sadar lingkungan.

Ketiga, kepatuhan regulasi. Pemerintah Indonesia terus memperketat aturan mengenai pajak karbon dan bursa karbon. Dengan memiliki data inventarisasi GRK yang valid, perusahaan Anda sudah selangkah lebih maju dalam memenuhi regulasi pemerintah. Konsultan ESG Indonesia berperan penting dalam memastikan bahwa semua data ini terintegrasi dengan baik ke dalam laporan tahunan perusahaan.

Studi Kasus: Analogi Jejak Karbon sebagai “Audit Medis” Perusahaan

Mengapa Perusahaan Membutuhkan Diagnosa yang Tepat?

Bayangkan sebuah perusahaan seperti tubuh manusia. Tanpa melakukan pemeriksaan medis rutin (check-up), seseorang mungkin merasa sehat padahal memiliki kolesterol tinggi yang membahayakan jantung. Dalam konteks lingkungan, menghitung jejak karbon produk adalah proses “medical check-up” tersebut. Jika perusahaan hanya menebak-nebak tanpa data akurat, mereka berisiko menghadapi “penyakit” berupa sanksi regulasi, boikot konsumen, atau ketidakefisienan biaya operasional yang membengkak.

Sebagai contoh fiktif, PT. Manufaktur Maju melakukan kajian awal dan menemukan bahwa 60% emisi mereka berasal dari transportasi logistik yang tidak efisien. Dengan hasil diagnosa dari jasa hitung jejak karbon produk, mereka mampu mengalihkan rute pengiriman dan menghemat biaya bahan bakar hingga 20% pertahun. Tanpa perhitungan ini, mereka akan terus “sakit” secara finansial dan lingkungan tanpa tahu penyebab pastinya.

Layanan Pendukung: Pelatihan Ekonomi Karbon dan Monitoring Udara

Selain perhitungan, keberlanjutan membutuhkan pemahaman dari sisi SDM. Oleh karena itu, pelatihan ekonomi karbon sangat disarankan bagi jajaran manajemen dan staf teknis. Pelatihan ini memberikan pemahaman tentang bagaimana mekanisme perdagangan karbon bekerja dan bagaimana emisi bisa diubah menjadi aset ekonomi melalui kredit karbon.

Untuk mendukung akurasi data di lapangan, penggunaan alat teknologi tinggi sangatlah krusial. Perusahaan perlu melakukan monitoring udara ambien di area operasional mereka. Di sinilah peran jual dan sewa alat ukur udara ambien menjadi penting. Salah satu perangkat terbaik yang tersedia di pasar saat ini adalah Aeroqual S500 Indonesia, yang mampu memberikan data real-time mengenai kualitas udara dan emisi secara portabel dan akurat.

Peran Strategis Konsultan ESG di Indonesia

Menavigasi lanskap ESG (Environmental, Social, and Governance) di Indonesia memerlukan keahlian khusus. Konsultan ESG Indonesia membantu perusahaan mengonsolidasikan hasil perhitungan jejak karbon ke dalam strategi bisnis yang lebih luas. Hal ini termasuk memastikan bahwa penyusunan Sustainability Report (Laporan Keberlanjutan) dilakukan sesuai dengan standar GRI atau SASB, yang sangat krusial untuk menarik minat investor asing.

Dengan bantuan tenaga ahli, perusahaan tidak hanya sekadar menghitung angka, tetapi juga mendapatkan narasi yang kuat mengenai komitmen keberlanjutan mereka. Ini membangun kepercayaan (trust) yang sangat mahal harganya di pasar modal saat ini. Hubungi penyedia solusi iklim seperti Actia Climate untuk mendapatkan pendampingan menyeluruh dalam perjalanan dekarbonisasi Anda.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan antara jejak karbon perusahaan dan jejak karbon produk?

Jejak karbon perusahaan mengukur emisi dari seluruh operasional organisasi dalam satu tahun, sedangkan jejak karbon produk fokus pada total emisi yang dihasilkan oleh satu unit produk tertentu sepanjang siklus hidupnya, dari bahan baku hingga dibuang oleh konsumen.

Mengapa perusahaan saya memerlukan jasa hitung jejak karbon produk sekarang?

Karena regulasi pajak karbon di Indonesia mulai diberlakukan dan permintaan pasar global (seperti regulasi CBAM di Eropa) mengharuskan setiap produk ekspor menyertakan data emisi. Menunda perhitungan berarti menunda kesiapan kompetisi di pasar masa depan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan Kajian LCA?

Durasi kajian LCA sangat bergantung pada ketersediaan data dan kompleksitas produk. Biasanya, proses ini memakan waktu antara 2 hingga 6 bulan untuk mendapatkan hasil yang akurat, terverifikasi, dan siap untuk dilaporkan.

Apakah hasil perhitungan jejak karbon bisa digunakan untuk klaim Net Zero?

Ya, perhitungan jejak karbon adalah langkah pertama yang wajib dilakukan. Tanpa data baseline yang akurat dari perhitungan tersebut, perusahaan tidak bisa mengklaim atau menetapkan target Net Zero yang kredibel dan diakui secara internasional.

Apa itu Aeroqual S500 dan mengapa perusahaan membutuhkannya?

Aeroqual S500 adalah alat pengukur kualitas udara portabel yang sangat akurat. Perusahaan membutuhkannya untuk memantau konsentrasi gas polutan di lingkungan kerja atau pabrik secara periodik guna memastikan kesehatan pekerja dan kepatuhan terhadap ambang batas emisi.

Bagaimana cara menentukan scope emisi (Scope 1, 2, 3)?

Scope 1 adalah emisi langsung dari sumber yang dimiliki perusahaan. Scope 2 adalah emisi tidak langsung dari pembelian energi (listrik). Scope 3 adalah semua emisi tidak langsung lainnya dalam rantai nilai, seperti perjalanan dinas, limbah, dan emisi dari pemasok.

Apakah UKM juga perlu melakukan inventarisasi GRK?

Sangat disarankan. Meskipun skala emisinya lebih kecil, UKM yang memiliki data inventarisasi GRK lebih mudah masuk ke dalam rantai pasok perusahaan besar (MNC) yang sudah menerapkan kriteria pemilihan vendor berbasis keberlanjutan.

Apa manfaat mengikuti pelatihan ekonomi karbon bagi manajemen?

Manajemen akan memahami cara mengubah risiko lingkungan menjadi peluang bisnis, cara berpartisipasi dalam bursa karbon, serta cara mengambil keputusan strategis yang menyelaraskan antara profitabilitas dengan pengurangan emisi karbon.

Bagaimana biaya jasa ini dihitung oleh konsultan?

Biaya biasanya dihitung berdasarkan jumlah kategori emisi yang dihitung, jumlah fasilitas yang dikunjungi, tingkat kerumitan pengumpulan data primer, serta apakah laporan tersebut membutuhkan sertifikasi pihak ketiga atau tidak.

Apa peran SBTi dalam perhitungan jejak karbon?

SBTi memberikan kerangka kerja ilmiah untuk memastikan bahwa target pengurangan emisi yang ditetapkan perusahaan benar-benar berkontribusi secara signifikan pada upaya global mencegah krisis iklim, bukan sekadar Greenwashing.

Jasa Hitung Jejak Karbon Produk

Memilih jasa hitung jejak karbon produk adalah langkah investasi cerdas yang melampaui sekadar kepatuhan lingkungan. Ini adalah strategi bisnis inti untuk efisiensi biaya, mitigasi risiko regulasi, dan penguatan posisi merek di pasar internasional. Dengan data yang akurat dan pendampingan dari ahli, perusahaan Anda akan memiliki peta jalan yang jelas menuju masa depan rendah karbon yang menguntungkan dan berkelanjutan.

PT. Actia Bersama Sejahtera ingin membantu perusahaan untuk mendapatkan keuntungan dengan cara reduksi emisi serta dalam jual dan sewa alat ukur lingkungan, serta di bidang gas rumah kaca (GRK). Bidang GRK terdiri dari platform Actia yang membantu user dalam penghitungan GRK, capacity building dalam bentuk training dan pendampingan, serta sertifikasi net zero emission. Dengan layanan : Perhitungan Jejak Karbon, Monitoring emisi CO2 perusahaan (Tracking reduksi emisi CO2), Reporting (Perhitungan gas rumah kaca serta trackingnya, digunakan sebagai input laporan Sustainability Report.), Penyusunan Strategi Dekarbonisasi, Jasa Inventarisasi Gas Rumah Kaca, Menghitung jejak karbon produk. Memiliki Produk : Jual dan Sewa Alat Ukur Udara Ambien (Aeroqual S500 adalah alat portable yang berfungsi mengukur udara ambien. Memiliki fitur datalog, solusi ideal bagi laboratorium ataupun divisi R&D perusahaan yang ingin melakukan pengukuran udara ambien secara periodik, ataupun melakukan riset di laboratorium. Kami menjual dan menyewakan alat tersebut) CO2 tinggi dalam ruang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan pekerja, untuk itu perlu direduksi dengan menggunakan CO2 ventilator ini yang dipasang pada jendela atau tembok. Kontak person : Whatsapp 6281515788893 , Jakarta: Creya Coworking Space Kebon Jeruk Jl. Lapangan Bola No.5D, RT.7 RW.1, Kec. Kebon Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11530 Surabaya: Office 2 – Urban Office – Merr Jl. Dr. Ir. H. Soekarno No.470 RT 02 RW 09, Kedung Baruk, Kec. Rungkut, Surabaya, Jawa Timur 60298