Konferensi Perubahan Iklim COP30, yang dihelat di Belém, Brasil, pada November 2025, bukan sekadar forum diskusi. Dijuluki “COP implementasi,” fokusnya adalah mewujudkan janji-janji iklim menjadi aksi nyata. Bagi Indonesia, negara kepulauan terbesar dengan hutan tropis luas dan ketergantungan pada energi fosil, COP30 adalah panggung strategis untuk menunjukkan komitmen menuju dunia rendah karbon. Paviliun Indonesia menjadi etalase untuk memamerkan inovasi, tantangan, dan cerita sukses dalam perjuangan melawan pemanasan global.
Dengan paviliun khusus, Indonesia bisa berbagi dan menunjukkan berbagai cerita sukses, tantangan, dan inovasi yang sudah berjalan. Sementara itu, isu dekarbonisasi yaitu upaya mengurangi emisi karbon secara bertahap menjadi benang merah utama. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki taruhan besar: hutan tropis yang luas, industri energi yang bergantung pada fosil, dan jutaan masyarakat yang bergantung pada alam.
Konferensi Perubahan Iklim COP30: Pusat Inovasi dan Budaya
Paviliun Indonesia di zona biru konferensi perubahan iklim COP30 dirancang sebagai pusat diskusi dinamis, mengusung tema “Accelerating Substantial Actions of Net Zero Achievement through Indonesia High Integrity Carbon”. Didukung mitra pembangunan berkelanjutan, paviliun ini memadukan tradisi lokal dan teknologi modern melalui sesi panel, pameran inovasi, dan pertunjukan budaya. Fokus utama meliputi energi terbarukan seperti geothermal (baru 10% dari potensi terbesar dunia dimanfaatkan) dan bioenergi dari limbah sawit, serta perlindungan mangrove sebagai benteng alami terhadap kenaikan permukaan laut
Paviliun Indonesia Soroti Isu Lokal yang Relatable
Instagram resmi pavilion Indonesia juga bocorkan bahwa ini akan jadi “panggung resmi” untuk bagikan aksi iklim, inovasi, dan solusi berkelanjutan. Bayangkan delegasi asing yang biasa lihat presentasi kaku, tiba-tiba diajak diskusi santai sambil nikmati kopi luwak organik atau tarian tradisional yang simbolkan harmoni dengan alam. Pendekatan seperti ini yang membuat paviliun Indonesia berbeda, tidak hanya jual ide, tapi jual cerita yang relatable. Dan yang menarik, paviliun Indonesia juga akan menyoroti isu lokal seperti perlindungan mangrove di pesisir, yang menjadi benteng alami terhadap naiknya permukaan laut. Di tengah konferensi perubahan iklim COP30 yang dihadiri ribuan peserta, paviliun Indonesia akan jadi magnet untuk investasi hijau, terutama dari negara-negara Eropa yang sedang mencari mitra di Asia Tenggara.

Zoom-in Dekarnonisasi
Sekarang, mari zoom in ke dekarbonisasi, tren yang sedang ”panas” dibahas menjelang konferensi perubahan iklim COP30. Dekarbonisasi bukan istilah asing lagi, ini tentang bagaimana kita mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak, ganti dengan sumber energi bersih, sambil jaga pertumbuhan ekonomi. Untuk Indonesia, ini tantangan sekaligus peluang emas.
Target Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Menurut proyeksi terbaru, Indonesia targetkan kurangi emisi gas rumah kaca setidaknya 31 persen pada 2030 dibanding skenario bisnis biasa. Sektor energi, kehutanan, limbah, dan industri pertanian jadi prioritas utama. Bayangkan, kita memiliki potensi geothermal terbesar di dunia, tapi baru dimanfaatkan 10 persennya. Tren terkini? Pemerintah sedang mendorong kebijakan industri hijau yang melihat komitmen iklim sebagai peluang bisnis. Ini artinya, bukan lagi tentang “hemat emisi”, tapi “dapat untung dari hijau”.
Perdagangan Karbon Resmi Diizinkan
Salah satu berita besar tahun ini: Indonesia resmi izinkan lagi perdagangan karbon internasional setelah hiatus empat tahun. Presiden Prabowo Subianto keluarkan dekrit baru pada 15 Oktober 2025, yang buka pintu bagi transaksi emisi karbon lintas batas. Ini langkah baru yang cukup penting, karena sebelumnya kita terjebak aturan domestik yang ketat. Hasilnya? Indonesia akan membawa 50 hingga 60 juta kredit karbon ke konferensi perubahan iklim COP30, siap dipasarkan lewat kemitraan standar global.
Highlight Paviliun Indonesia
Kredit karbon ini lahir dari proyek-proyek seperti reboisasi hutan atau efisiensi energi di pabrik semen. Di paviliun, ini akan menjadi highlight: seminar tentang bagaimana kredit ini bantu capai target pengurangan 459 juta ton CO2 setara di berbagai sektor. Tren global menunjukkan negara-negara seperti Indonesia, yang emitter besar di ASEAN, mulai pivot ke pasar karbon sukarela. Ini bukan cuma angka; ini soal ciptakan lapangan kerja baru di sektor hijau, seperti teknisi panel surya atau petani berkelanjutan.
Dekarbonisasi Indonesia: Lari Marathon di Tanah Berlumpur
Jangan buru-buru optimis. Ada tantangan nyata yang membuat dekarbonisasi Indonesia seperti lari marathon di tanah berlumpur. Laporan terbaru dari JustCOP mengatakan, puncak emisi di sektor energi kita malah mundur tujuh tahun dari target, akibat proyeksi jangka panjang rendah karbon yang belum matang. Kenapa? Karena transisi energi membutuhkan investasi triliunan dolar, sementara subsidi fosil masih menggiurkan bagi perusahaan besar.
Puncak Emisi Sektor Energi Mundur Tujuh Tahun
Dekarbonisasi, mengurangi emisi karbon sambil menjaga pertumbuhan ekonomi, adalah inti agenda Indonesia. Target nasional adalah pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 31% pada 2030 dibandingkan skenario bisnis biasa, dengan sektor energi, kehutanan, limbah, dan pertanian sebagai prioritas. Kebijakan industri hijau mendorong peluang bisnis, seperti lapangan kerja di sektor panel surya dan pertanian berkelanjutan. Namun, tantangan besar tetap ada. Laporan JustCOP (Oktober 2025) mencatat puncak emisi sektor energi mundur tujuh tahun dari target akibat minimnya investasi dan subsidi fosil yang masih dominan. Proyek geothermal di Jawa Barat, misalnya, menghadapi konflik lahan karena kurangnya konsultasi dengan warga. Solusi seperti kemitraan berbasis bagi hasil dengan masyarakat adat dapat menjadi model yang dipamerkan di paviliun.
Climate Justice dan Kolaborasi Global
Paviliun Indonesia juga menyoroti climate justice, memastikan suara petani kecil dan nelayan didengar, bukan hanya korporasi. Diskusi tentang penangkapan karbon, seperti proyek di industri baja, dapat memperkuat kolaborasi dengan Brasil, yang memiliki kesamaan hutan tropis. Paviliun di konferensi perubahan iklim COP30 menjadi magnet bagi investasi hijau, terutama dari Eropa, yang mencari mitra di Asia Tenggara.
Kontribusi Sektor ke Target Emisi 2030
Berikut perkiraan kontribusi sektor terhadap pengurangan emisi Indonesia:
- Energi: 40%
- Kehutanan: 30%
- Limbah: 15%
- Pertanian: 10%
- Industri: 5%
Paviliun Indonesia juga akan sentuh isu lebih luas, seperti paviliun carbon removal pertama di konferensi perubahan iklim COP30 yang dipimpin Negative Emissions Platform. Indonesia bisa ikut, dengan proyek penangkapan karbon dari pabrik baja. Ini tren masa depan: bukan cuma kurangi emisi, tapi aktif hapus yang sudah ada. Di paviliun, diskusi ini bisa jadi katalisator untuk kolaborasi Brasil-Indonesia, mengingat keduanya memiliki hutan yang mirip, Amazon dan Kalimantan.
Akhirnya, COP30 lewat paviliun Indonesia bisa menjadi titik balik. Tidak hanya menampilkan data emisi atau kredit karbon, tapi cerita manusia di baliknya. Tren dekarbonisasi Indonesia saat ini menjanjikan, dengan resumption perdagangan karbon dan kebijakan industri hijau yang sedang on track. Tapi, suksesnya tergantung implementasi pasca COP. Kita membutuhkan dukungan swasta, pemerintah lokal, dan masyarakat. konferensi perubahan iklim COP30 bukan akhir, tapi awal dari era di mana Indonesia bukan korban iklim, tapi pemimpin perubahan.




















