Training IFRS S1 dan S2 di Indonesia

Training IFRS S1 dan S2 di Indonesia

Pelatihan IFRS S1 dan S2 di Indonesia

Sudah Siapkah Tim Anda Menuju 2027?

Pelatihan IFRS S1 dan S2 semakin relevan bagi perusahaan di Indonesia karena standar pengungkapan keberlanjutan nasional sudah memasuki fase yang lebih jelas arahnya. Pada 1 Juli 2025, Dewan Standar Keberlanjutan Ikatan Akuntan Indonesia (DSK-IAI) secara resmi meluncurkan Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK) yang terdiri dari PSPK 1 dan PSPK 2, diadopsi dari IFRS S1 dan IFRS S2 yang dikeluarkan oleh International Sustainability Standards Board (ISSB). Standar ini akan berlaku wajib mulai 1 Januari 2027 untuk emiten dan entitas besar, menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari 33 yurisdiksi yang telah mengimplementasikan kerangka pelaporan keberlanjutan global. Bagi perusahaan Indonesia, timeline ini bukan sekadar milestone regulasi. Ini adalah batas waktu untuk mempersiapkan infrastruktur pelaporan, tata kelola, dan kapasitas SDM yang memadai.

Apa Itu IFRS S1 dan S2 dan Mengapa Penting bagi Indonesia?

IFRS S1 (General Requirements for Disclosure of Sustainability-related Financial Information) menetapkan persyaratan umum untuk pengungkapan risiko dan peluang keberlanjutan yang secara finansial material bagi perusahaan. Standar ini berfokus pada empat pilar utama: governance, strategy, risk management, serta metrics dan targets. Sementara itu, IFRS S2 (Climate related Disclosures) secara khusus menangani pengungkapan risiko dan peluang terkait iklim, termasuk dampak transisi dan fisik terhadap model bisnis dan ketahanan strategi perusahaan.

Standar global ini bukan hanya pilihan, ini adalah kebutuhan strategis! Ini adalah momentum untuk upgrade kualitas sustainability reporting perusahaan Anda!

Pelatihan IFRS S1 dan S2 penting untuk kesiapan perusahaan di Indonesia

Banyak perusahaan sudah melakukan program efisiensi energi, pengelolaan lingkungan, atau inisiatif keberlanjutan lain. Namun, tantangan sering muncul ketika perusahaan perlu menjawab pertanyaan yang menuntut keterhubungan antara isu keberlanjutan dan dampak ke bisnis, misalnya:

  • Apakah risiko iklim bisa memengaruhi biaya operasional, pasokan, atau keputusan investasi?
  • Data energi dan emisi sudah ada, tetapi apakah konsisten, dapat ditelusuri, dan siap digunakan untuk pengungkapan?
  • Siapa yang bertanggung jawab atas data, siapa yang meninjau, dan bagaimana memastikan kualitasnya?

Di sinilah pelatihan yang tepat dapat membantu, bukan hanya memahami istilah, tetapi membangun kebiasaan kerja yang membuat pelaporan lebih rapi dan lebih aman saat diminta bukti.

Tiga Fase Persiapan: Roadmap IFRS S1 dan S2 Wajib Dipahami

Pemerintah Indonesia telah merancang tiga tahap persiapan yang jelas hingga implementasi penuh:

2025: Sosialisasi & Panduan Teknis — Fase ini fokus pada edukasi stakeholder, penyusunan panduan implementasi teknis, dan adopsi masih sebatas sukareala. IAI juga mendirikan Indonesia Sustainability Reporting Forum (ISRF) sebagai platform kolaboratif untuk regulator, bisnis, dan stakeholder.

2026: Simulasi & Sistem — Perusahaan diharapkan berlatih menyusun laporan, membangun sistem informasi terintegrasi, dan menguji kualitas data. Ini adalah waktu optimal untuk mengidentifikasi gap dan melakukan evaluasi.

2027: Implementasi Wajib — Efektif 1 Januari 2027, semua emiten dan entitas besar harus menyampaikan laporan keberlanjutan yang selaras dengan PSPK 1 dan PSPK 2.

Tantangan Implementasi Utama yang Harus Diatasi

Hal ini menjadi tantangan kompleks. Data sering kali belum tersedia sistematis dari supplier dan partner bisnis. Perusahaan perlu mulai memetakan rantai nilai, melakukan supplier engagement, dan membangun prosedur koleksi data.

Masih bersifat terpisah di banyak organisasi. Sustainability data, financial data, dan risk management sering tersimpan di divisi yang berbeda. Perusahaan harus mulai merancang sistem yang memungkinkan integrasi data sehingga dapat langsung dimasukkan ke laporan keuangan.

Saat ini masih menjadi tantangan. Analisis risiko iklim, scenario analysis, dan perhitungan dampak finansial membutuhkan expertise yang masih terbatas di Indonesia. Program capacity building internal dan partnership dengan konsultan eksternal menjadi urgent.

Lakukan 5 Langkah Ini!

Perusahaan yang ingin siap pada 2027 perlu mengambil tindakan segera!

1. Pembentukan Governance

Bentuk komite keberlanjutan di board level atau risk committee yang bertanggung jawab terhadap sustainability dan disclosures.

2. Materiality Assessment

Identifikasi isu-isu keberlanjutan menggunakan pendekatan ganda (financial materiality dan impact materiality). Ini adalah fondasi untuk menentukan apa yang harus didisclose.

3. Data Architecture Design

Mulai implementasi sistem yang dapat mengintegrasikan data secara otomatis

4. Scenario Analysis Pilot

Lakukan pilot project untuk menganalisis bagaimana risiko dan peluang keberlanjutan (khususnya climate related) mempengaruhi financial performance perusahaan dalam skenario 1.5°C, 2°C, dan lainnya.

5. Capacity Building Program

Ajak tim Anda! Training untuk team keuangan, sustainability, dan audit tentang IFRS S1 & S2 requirements, methodology calculation, dan quality assurance procedures. Cek juga training lainnya di Actia Training Schedule.

Siapa yang Harus Ikut Pelatihan IFRS S1 dan S2?

Pelatihan paling efektif jika diikuti oleh tim inti yang memang akan menjalankan prosesnya. Umumnya terdiri dari:

  • Keuangan/pelaporan korporat (agar pengungkapan selaras dengan informasi keuangan)
  • ESG/HSE/Sustainability (pemilik program, indikator, dan data pendukung)
  • Manajemen risiko/strategi (menerjemahkan risiko ke rencana respons dan ketahanan strategi)
  • Operasional & pengadaan (karena banyak data berada di energi, proses, dan rantai pasok)

Dengan komposisi ini, hasil pelatihan lebih mudah berubah menjadi rencana kerja, bukan sekadar catatan kelas.

Waktu Adalah Aset

Adopsi IFRS S1 dan S2 yang proper adalah peluang untuk memperkuat reputasi dan daya saing. Perusahaan yang mampu menyajikan sustainability disclosure berkualitas akan memiliki akses lebih mudah ke investor. Integrasi PSPK dengan Taksonomi Hijau Indonesia (green taxonomy yang dikoordinasi OJK) juga membuka peluang akses ke insentif pembiayaan hijau dan participation dalam green financing programs yang semakin berkembang.

Dengan deadline implementasi hanya 12 bulan tersisa (sejak sekarang), tidak ada ruang untuk menunda persiapan. Organisasi yang memulai lebih awal akan memiliki timeline yang cukup untuk membangun sistem, menyiapkan SDM, dan menyiapkan data berkualitas. Sebaliknya, perusahaan yang menunggu hingga 2027 akan menghadapi resiko yang merugikan.

IFRS S1 & S2 bukan sekadar trend! ini adalah transformasi dalam melaporkan sustainability dan climate impact. Indonesia sudah memberi signal jelas: investasi dalam sustainability infrastructure adalah investasi untuk masa depan bisnis Anda.

Tunggu apa lagi? Atur jadwalnya. Kami berikan detailnya sekarang!

ESG sebagai Pilar Strategis untuk Masa Depan Bisnis Berkelanjutan

ESG sebagai Pilar Strategis untuk Masa Depan Bisnis Berkelanjutan

ESG sebagai Pilar Strategis
untuk Masa Depan Bisnis Berkelanjutan

Di tengah transformasi global menuju pembangunan berkelanjutan, perusahaan dihadapkan pada realitas baru. Keberhasilan bisnis tidak lagi hanya dinilai dari laporan keuangan, tetapi juga dari bagaimana perusahaan tersebut mengelola dampaknya terhadap lingkungan, masyarakat, dan sistem tata kelola internal. Inilah inti dari ESG (Environmental, Social, and Governance) kerangka kerja yang kini menjadi perhatian utama investor global, pemerintah, dan konsumen yang mulai paham terhadap keberlanjutan.

Apa itu ESG dan Mengapa Penting?

ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, and Governance yang merupakan kerangka kerja yang digunakan untuk mengukur keberlanjutan, etika, dan tanggung jawab perusahaan. Konsep ini semakin penting bagi bisnis karena investor dan konsumen mulai memilih perusahaan yang memiliki komitmen terhadap aspek-aspek keberlanjutan:

  • Environmental (Lingkungan)
  • Social (Sosial)
  • Governance (Tata Kelola)

Environmental (Lingkungan)

Menilai bagaimana perusahaan memengaruhi dan mengelola dampak terhadap lingkungan, termasuk emisi karbon, limbah, penggunaan energi, efisiensi sumber daya, kanekaragaman hayati dan keberlanjutan rantai pasok.

Social (Sosial)

Menyoroti relasi perusahaan dengan karyawan, komunitas lokal, pemasok, dan isu-isu seperti hak asasi manusia, kesehatan & keselamatan kerja, hingga keberagaman.

Governance (Tata Kelola)

Mengkaji struktur kepemimpinan, transparansi, integritas, pengelolaan risiko, dan kepatuhan terhadap hukum dan regulasi.

Dulu, ESG dipandang sebagai inisiatif sukarela. Kini, ia menjadi instrumen strategis dalam pengambilan keputusan bisnis dan investasi.

Manfaat Implementasi ESG bagi Perusahaan

Banyak pelaku industri masih menganggap ESG sebagai beban tambahan. Namun berdasarkan pengalaman kami dalam mendampingi perusahaan skala kecil hingga multinasional, manfaat ESG justru melebihi ekspektasi:

a. Mengakses Modal Lebih Mudah

Investor institusional kini mensyaratkan kriteria ESG sebelum mengucurkan dana. Perusahaan dengan laporan ESG yang baik memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pendanaan dengan bunga lebih rendah dan jangka waktu lebih panjang.

b. Meningkatkan Reputasi dan Loyalitas Konsumen

Masyarakat dan konsumen semakin selektif terhadap produk yang mereka konsumsi. Perusahaan yang mengedepankan keberlanjutan dan etika sosial memiliki citra merek yang lebih kuat dan disukai oleh generasi muda.

c. Mitigasi Risiko Operasional dan Hukum

Dengan ESG, perusahaan dapat mengidentifikasi dan mengurangi risiko seperti bencana lingkungan, konflik tenaga kerja, dan korupsi internal yang berpotensi mengganggu operasi bisnis.

d. Efisiensi dan Inovasi

Pendekatan ESG mendorong perusahaan mencari metode produksi yang lebih efisien dan inovatif, yang pada akhirnya berdampak langsung pada penghematan biaya dan keunggulan kompetitif.

Langkah Strategis Menuju ESG yang Efektif

Sebagai konsultan, kami menyarankan pendekatan bertahap, namun strategis
dalam membangun program ESG yang solid:

1. Diagnosis Awal & Materiality Assessment

Identifikasi isu-isu ESG yang paling relevan terhadap bisnis dan pemangku kepentingan Anda. Ini dilakukan melalui pemetaan dampak lingkungan, sosial, serta wawancara dengan stakeholder utama.

2. Menyusun Kebijakan & Strategi ESG

Kembangkan kerangka kerja ESG yang mencakup visi, misi, indikator kinerja utama (KPI), dan peta jalan implementasi.

3. Membangun Sistem Pelaporan ESG

Gunakan tools dan metodologi berbasis standar internasional (misalnya GRI atau CSRD) untuk mengumpulkan dan melaporkan data ESG.

4. Audit dan Sertifikasi Pihak Ketiga

Libatkan lembaga independen untuk memvalidasi pencapaian ESG Anda. Sertifikasi semacam ini meningkatkan kredibilitas dan transparansi di mata investor.

5. Komunikasi dan Pelibatan Pemangku Kepentingan

Publikasikan laporan keberlanjutan Anda melalui saluran komunikasi resmi, dan jalin dialog aktif dengan karyawan, mitra, dan masyarakat sekitar.

Tantangan Umum dalam Implementasi ESG

Meski bermanfaat, penerapan ESG tidak bebas hambatan. Berikut adalah masalah yang sering ditemui Perusahaan dalam penerapan ESG:

Kurangnya Pemahaman Internal

Banyak tim manajemen belum memahami apa itu ESG, bagaimana mengukurnya, dan mengapa itu penting. Akibatnya, ESG hanya dijalankan sebagai formalitas tanpa integrasi strategis.

Minimnya Data dan Sistem Pelaporan

Dalam ESG data adalah segalanya, ketersediaan data yang akurat dan konsisten menjadi tantangan utama. Banyak perusahaan belum memiliki sistem pelaporan yang memadai untuk mendokumentasikan emisi, dampak sosial, atau proses tata kelola.

Ketidakjelasan
Standar

Ada banyak standar ESG global GRI, SASB, CSRD, TCFD yang bisa membingungkan perusahaan dalam menentukan mana yang relevan. Tanpa arahan profesional, perusahaan dapat terjebak dalam pelaporan yang tidak efisien.

Memakan
Banyak Waktu

Mengembangkan laporan ESG yang sesuai standar membutuhkan waktu berbulan-bulan, apalagi jika belum pernah melakukannya. Tim internal bisa kehilangan fokus dari tugas utama mereka, sehingga mengganggu kegiatan operasional.

Kenapa ACTIA?

Persiapkan perusahaan anda dalam mengimplementasikan ESG dengan tenaga professional, kami siap membantu Anda. Lalu kenapa harus memilih kami?

ESG bukan hanya tanggung jawab moral, tetapi juga aset strategis yang akan menentukan posisi Anda di bisnis masa depan. Dunia telah berubah, dan perusahaan yang gagal beradaptasi akan tertinggal. Sebagai konsultan, KAMI percaya bahwa setiap organisasi dapat mulai mengambil langkah konkret menuju keberlanjutan. ESG bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang transparansi, komitmen, dan kemajuan berkelanjutan.

Butuh bantuan menyusun strategi ESG, pelaporan keberlanjutan, atau audit mandiri?
Hubungi kami untuk konsultasi awal tanpa biaya dan temukan bagaimana ESG dapat menjadi keunggulan kompetitif bisnis Anda.

Transformasi ESG Anda Dimulai Bersama ACTIA
Bersama ACTIA, Wujudkan ESG yang Terukur dan Berkelanjutan

PT ACTIA BERSAMA SEJAHTERA

Office 1 – Lantai 18, Office 8 – Senopati
Jl. Senopati Jl. Jenderal Sudirman No. 8B, SCBD,
Kebayoran Baru, South Jakarta City, Jakarta 12190

Office 2 – Urban Office – Merr
Jl. Dr. Ir. H. Soekarno No.470 RT 02 RW 09, Kedung Baruk,
Kec. Rungkut, Surabaya, Jawa Timur 60298

Hubungi Kami

PT Actia Bersama Sejahtera – Support oleh Dokter Website