Industri besi dan baja merupakan salah satu sektor yang paling berdampak terhadap lingkungan, terutama dalam hal emisi karbon. Dalam rangka meningkatkan transparansi dan tanggung jawab, International Sustainability Standards Board (ISSB) telah mengeluarkan standar wajib untuk pengungkapan terkait iklim. Standar ini bertujuan untuk memberikan panduan yang jelas bagi perusahaan agar dapat memberikan informasi yang transparan mengenai dampak iklim dari operasional mereka.

Tujuan Climate-Related Disclosures Berdasar ISSB Standards

Penyusunan Climate-Related Disclosures berdasarkan ISSB Standards bertujuan untuk memberikan panduan kepada perusahaan dalam mengungkapkan informasi yang relevan tentang dampak perubahan iklim terhadap operasional mereka. Tujuan utamanya adalah untuk:

  1. Mengurangi risiko investasi dengan menyediakan informasi yang lebih terperinci tentang bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi kinerja finansial perusahaan.
  2. Mendorong perusahaan untuk mengambil tindakan proaktif dalam mengelola risiko dan peluang terkait iklim.
  3. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan dalam mengungkapkan data iklim dan strategi mitigasi mereka.

Bagaimana Industri Besi dan Baja Menghasilkan Emisi Karbon?

Proses produksi besi dan baja melibatkan beberapa tahap yang menghasilkan emisi karbon. Tahap pertama adalah penambangan bijih besi, yang kemudian diolah menjadi besi kasar melalui proses peleburan dalam tanur tinggi. Pada proses ini, bijih besi direduksi menggunakan kokas sebagai reduktor, yang menghasilkan gas CO2 sebagai produk samping. Setelah itu, besi kasar diolah lebih lanjut menjadi baja dengan menghilangkan kotoran dan menambah elemen paduan tertentu.

Berikut adalah penjelasan detail mengenai setiap tahap dalam proses produksi besi dan baja.

  1. Penambangan dan Pengolahan Bahan Baku

Emisi yang dihasilkan pada tahap ini meliputi debu, partikel, dan gas dari mesin yang digunakan dalam proses penambangan dan penghancuran.

  1. Pembuatan Besi Kasar (Pig Iron)

Emisi utama dari tahap ini adalah gas CO2 yang dihasilkan dari pembakaran kokas dan penguraian batu kapur.

  1. Pembuatan Baja Proses Konverter Oksigen (BOF) atau Tanur Busur Listrik (EAF)

Emisi dari tahap ini meliputi CO2, NOx, dan SOx, serta debu yang dihasilkan selama proses peleburan dan pemurnian.

  1. Pengecoran dan Pembentukan

Tahap ini menghasilkan emisi debu dan gas dari pemanasan ulang dan proses penggulungan.

  1. Finishing dan Perlakuan Khusus

Emisi pada tahap ini cenderung lebih rendah namun tetap ada, terutama dari proses pemotongan dan pelapisan.

Beberapa contoh produk industri besi dan baja meliputi:

Perusahaan Sektor Industri Besi dan Baja di Jawa Timur

Indonesia memiliki beberapa perusahaan terkemuka dalam industri besi dan baja. Berikut adalah beberapa perusahaan industri besi dan baja di Jawa Timur:

  1. Kalimantan Steel: Perusahaan ini dikenal dengan produk baja struktural yang digunakan dalam berbagai proyek konstruksi besar di seluruh negeri. PT. Kalimantan Steel berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon melalui penerapan teknologi produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
  2. Steel Pipe Industry of Indonesia, Tbk (SPINDO): SPINDO adalah produsen pipa baja terbesar di Indonesia. Produk-produk pipa baja dari SPINDO digunakan dalam berbagai sektor, termasuk minyak dan gas, konstruksi, dan infrastruktur. SPINDO telah mengadopsi praktik keberlanjutan dalam operasionalnya untuk mengurangi dampak lingkungan dari produksinya.
  3. Indal Steel Pipe (ISP): PT. Indal Steel Pipe (ISP) merupakan produsen pipa baja berkualitas tinggi yang berfokus pada pasar domestik dan internasional. ISP terus berinovasi dalam teknologi produksi untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi karbon.
  4. Gunawan Dianjaya Steel, Tbk (GDS): GDS adalah salah satu produsen baja lembaran terkemuka di Indonesia. Produk baja lembaran dari GDS banyak digunakan dalam industri otomotif dan manufaktur. GDS berkomitmen untuk mengurangi jejak karbon melalui investasi dalam teknologi hijau dan penerapan praktik produksi yang berkelanjutan.
  5. Barata Indonesia: PT. Barata Indonesia adalah perusahaan industri berat yang memproduksi berbagai produk baja, termasuk komponen mesin dan konstruksi. PT. Barata Indonesia telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi karbon dalam proses produksinya.

 

Kenapa Harus Menyusun Climate-Related Disclosures Berdasarkan ISSB Standards?

  1. Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas

Dengan mengikuti standar ISSB, perusahaan di sektor industri besi dan baja dapat meningkatkan transparansi dalam hal pengelolaan emisi karbon dan dampak lingkungan lainnya. Transparansi ini penting untuk:

  1. Mengurangi Risiko Finansial dan Operasional

Pengungkapan yang jelas dan komprehensif membantu perusahaan mengidentifikasi dan mengelola risiko terkait iklim, seperti:

  1. Menjadi Daya Tarik Bagi Investor

Investor semakin tertarik pada perusahaan yang memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan. Dengan menyusun Climate-Related Disclosures yang sesuai dengan standar ISSB, perusahaan dapat:

Langkah-Langkah Penyusunan Climate-Related Disclosures

  1. Penilaian Awal
  1. Penyusunan Laporan
  1. Verifikasi dan Validasi
  1. Publikasi dan Komunikasi

Manfaat Menggunakan Jasa Actia untuk Penyusunan Climate-Related Disclosures berdasar ISSB Standards Sektor Industri Besi dan Baja

  1. Keahlian dan Pengalaman

Tim Actia memiliki keahlian dan pengalaman dalam menyusun Climate-Related Disclosures yang sesuai dengan standar ISSB. Kami dapat membantu perusahaan dalam:

  1. Efisiensi Waktu dan Biaya
  1. Peningkatan Reputasi

Untuk informasi lebih lanjut tentang jasa konsultan penyusunan Climate-Related Disclosures berdasarkan ISSB Standards untuk sektor industri besi dan baja, silakan hubungi kami di sini. Kami siap membantu Anda.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *